Siapa Saja yang Sudah Baca Pesan WhatsApp Saya di Grup?

hchandraleka-siapa-yang-baca-wa-saya-di-grup

 

Written at Santika Hotel Semarang, Central Java.

Syaban 1439 H

Advertisements

Bentuk Bumi Menurut Bible dan al Qur’an

Bentuk Bumi Menurut Bible dan al Qur’an

Oleh Chandra Abu Maryam

 

 

Bentuk Bumi Menurut Bible

Bentuk bumi menurut Bible adalah datar. Berikut ini dalah kutipan ayat dalam Bible yang menjadi dasar bumi datar.

Matius 4:8

Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya.

Lukas 4:5

Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia.

Daniel 4:10-11

Adapun penglihatan yang kudapat di tempat tidurku itu, demikian: di tengah-tengah bumi ada sebatang pohon yang sangat tinggi; pohon itu bertambah besar dan kuat, tingginya sampai ke langit, dan dapat dilihat sampai ke ujung seluruh bumi.

Dalam Matius 4:8 dan Lukas 4:5 SEMUA kerajaan dunia dapat terlihat dari tempat yang sangat tinggi. Hal ini hanya dimungkinkan bila bumi itu datar, bila bumi bulat maka akan ada kerajaan dunia yang tidak terlihat karena berada pada bagian bumi yang lain yang tidak dijangkau pandangan mata. Hal senada juga dalam Daniel 4:10-11. Insya Allah ini cukup mudah dipahami.

 

Bentuk Bumi Menurut al Qur’an

Umumnya para ulama berpegang pada bumi berbentuk bulat, kecuali beberapa yang berpandangan bahwa bumi datar. Perkara bulat atau datarnya bumi tidak berkaitan dengan keimanan, demikian penjelasan Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani rahimahullah sebagaimana dinukil oleh situs AbdurRahman.org yang mengutip Silsilat-ul-Hudâ wan-Nûr 435 & 436[1].

 

Ulama Islam yang Berpegang Bumi Itu Bulat

Para ulama Islam yang berpegangan bahwa bumi itu bulat menggunakan dasar ayat 5 dalam surat aZ Zumar. Allah ta’ala berfirman,

يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ

“Allah menggulung malam ke dalam siang dan menggulung siang ke dalam malam.” [Az-Zumar: 5]

Berkata al Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf dalam bukunya berjudul “Matahari Mengelilingi Bumi” ketika menjelaskan ayat tersebut

“Sisi pengambilan dalilnya sangat jelas, bahwa lafadh takwir (yang digarisbawahi) berarti berputar. … Dan kalau siang dan malam selalu berputar maka sangat jelas menunjukkan bahwa bumi itu adalah bulat”[2].

 

Berikut ini para ulama yang berpandangan bahwa bumi itu bulat.

  1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika mengutip perkataan Abu’l-Husayn ibn al-Munaadi rahimahullah

“Imam Abu’l-Husayn Ahmad ibn Ja‘far ibn al-Munaadi narrated from the prominent scholars who are well known for knowledge of reports and major works in religious sciences, from the second level of Ahmad’s companions, that there was no difference of opinion among the scholars that the sky is like a ball. 

He said: Similarly they were unanimously agreed that the Earth, with all that is contains of land and sea is like a ball. He said: That is indicated by the fact that the sun, moon and stars do not rise and set over those who are in different parts of the earth at the same time; rather that occurs in the east before it occurs in the west”[3].

  1. Abu Muhammad Ibn Hazm rahimahullah

Berkata Abu Muhammad Ibn Hazm rahimahullah

“We are going to discuss some of the arguments against the idea that the earth is round. They said: There is sound evidence that the earth is round, but the common folk say otherwise. Our response – and Allah is the source of strength – is that none of the leading Muslim scholars who deserve to be called imams or leaders in knowledge (may Allah be pleased with them) denied that the earth is round, and there is no narration from them to deny that. Rather the evidence in the Qur’an and Sunnah stated that it is round”[4].

  1. Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin rahimahullah

Menurut Syaikh Utsaimin rahimahullah, bentuk bumi bulat seperti telur. Berkata Syaikh Utsaimin rahimahullah

The earth is round, based on the evidence of the Qur’an, reality, and scientific views. 

The evidence of the Qur’an is the verse in which Allah, may He be exalted, says (interpretation of the meaning):

“He created the heavens and earth for a true purpose; He wraps the night around [yukawwir] the day and the day around the night”

[az-Zumar 39:5].

The word yukawwir (translated here as “wraps around” means to make something round, like a turban. It is well-known that night and day follow one another on earth, which implies that the Earth is round, because if you wrap one thing around another thing, and the thing that it is wrapped around is the Earth, then Earth must be round

With regard to real-life evidence, this has been proven. If a man were to fly from Jeddah, for example, heading west, he would come back to Jeddah from the east, if he flew in a straight line. This is something concerning which no one differs. 

With regard to the words of the scholars, they stated that if a man died in the east at sunset, and another died in the west at sunset, and there was some distance between them, the one who died in the west at sunset would inherit from the one who died in the east at sunset, if he was one of his heirs. This indicates that the earth is round, because if the earth were flat, sunset in all regions would occur at the same time. Once this is established, no one can deny it. This is not contradicted by the verses in which Allah, may He be exalted, says (interpretation of the meaning): 

“Do they not look at the camels, how they are created?

And at the heaven, how it is raised?

And at the mountains, how they are rooted and fixed firm?

And at the earth, how it is spread out?”

[al-Ghaashiyah 88:17-20]  

Because the Earth is huge and its curvature cannot be seen from a short distance, it appears to be spread out and one cannot see anything that would make one fear living on it, but this does not contradict the fact that it is round, because it is very big. However they say that it is not evenly round; rather it is indented or pushed in at the north and south poles. Hence they say that it is egg-shaped[5].

  1. Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani rahimahullah

Berkata Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani rahimahullah ketika ditanya apakah bumi bulat atau datar, beliau menjawab

It is round, and the issue of the earth being round or flat is not an affair related to actions nor faith[6].

 

Ulama yang Berpegang Bumi Datar

Saya dapati sebuah tulisan dari al ustadz dr. Raehanul Bahraen terkait masalah ini bahwa ada beberapa ulama yang tidak sejalan dengan pandangan bahwa bumi bulat dan mereka menyakini bahwa bumi datar[7]. Pandangan tentang bumi datar terdapat dalam dua tafsir di bawah ini sebagaimana dijelaskan oleh al ustadz dr. Raehanul Bahraen

  1. Tafsir al-Jalalayn

Tercantum dalam Tafsir al-Jalalayn pada penafsiran ayat 20 surat al-Ghaasyiyah

“As for His words sutihat ‘laid out flat’ this on a literal reading suggests that the earth is flat[8]

  1. Tafsir al Qurthubi

Imam al Qurthubi menyangkal bumi seperti bola ketika menerangkan surat al Hijr ayat 19. Berkata Imam al Qurthubi

“Ini adalah bantahan bagi mereka yang menyangka bahwa bumi itu seperti bola”[9]

 

Sikap Gereja yang Berlebihan dalam Persoalan Bentuk Bumi dan Sikap Ulama Islam dalam Hal ini

Alhamdulillah, ulama Islam bersikap bijak dalam perkara ini. Menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani rahimahullah –sebagaimana telah dikutip di atas, bulat atau datarnya bumi bukan perkara keimanan. Oleh karena itu, meski mayoritas ulama Islam berpandangan bahwa bumi bulat dan ada beberapa ulama yang berpandangan bahwa bumi datar, hal ini merupakan perbedaan pendapat yang bisa dimaklumi. Maka sejalan dengan pernyaatan al ustadz dr. Raehanul Bahraen, tidak selayaknya kaum muslimin berpecah belah dalam hal ini, saling mencela, dan menyindir[10].

Berbeda dengan sikap gereja dalam perkara ini. Mereka bersikap berlebihan bahkan terhadap para ilmuwan yang menyelisihi Gereja.

“Thus it is known that the Earth is round, and that is not contradicted by the fact that it is like an egg. Rather the false view is that which claims that it is flat, as the Church used to believe and for that reason used to curse and burn those scientists who said that it was round [11].

 

(Ditulis di Bogor, diselesaikan di Jakarta, 28 Rabiul Akhir 1439 H/16 Januari 2018 M)

 

[1] https://abdurrahman.org/2013/03/21/the-spherical-earth-in-an-orbit-imam-al-albani-videoar-en/

[2] Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, Matahari Mengelilingi Bumi – Sebuah Kepastian al Qur’an dan as-Sunnah serta Bantahan Terhadap Teori Bumi Mengelilingi Matahari, Pustaka al Furqon, hal. 74

[3] https://islamqa.info/en/118698

[4] https://islamqa.info/en/118698

[5] https://islamqa.info/en/118698

[6] https://abdurrahman.org/2013/03/21/the-spherical-earth-in-an-orbit-imam-al-albani-videoar-en/

[7] https://muslim.or.id/28368-apakah-bumi-bulat-bola-atau-datar-menurut-pandangan-syariat.html

[8] http://main.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=1&tTafsirNo=74&tSoraNo=88&tAyahNo=20&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2

[9] https://muslim.or.id/28368-apakah-bumi-bulat-bola-atau-datar-menurut-pandangan-syariat.html

[10] https://muslim.or.id/28368-apakah-bumi-bulat-bola-atau-datar-menurut-pandangan-syariat.html

[11] https://islamqa.info/en/118698

Kisah Nabi Yusya bin Nun dan Berputarnya Matahari Mengelilingi Bumi dalam Literatur Islam dan Nasrani

Oleh Chandra Abu Maryam

Kisah Nabi Yusya bin Nun dan Berputarnya Matahari Mengelilingi Bumi dalam Literatur Islam dan Nasrani

 

Rujukan dalam hadits di Shahih Bukhari nomor 3124.

Narrated Abu Huraira:

The Prophet () said, “A prophet amongst the prophets carried out a holy military expedition, so he said to his followers, ‘Anyone who has married a woman and wants to consummate the marriage, and has not done so yet, should not accompany me; nor should a man who has built a house but has not completed its roof; nor a man who has sheep or shecamels and is waiting for the birth of their young ones.’ So, the prophet carried out the expedition and when he reached that town at the time or nearly at the time of the `Asr prayer, he said to the sun, ‘O sun! You are under Allah’s Order and I am under Allah’s Order O Allah! Stop it (i.e. the sun) from setting.’ It was stopped till Allah made him victorious. Then he collected the booty and the fire came to burn it, but it did not burn it. He said (to his men), ‘Some of you have stolen something from the booty. So one man from every tribe should give me a pledge of allegiance by shaking hands with me.’ (They did so and) the hand of a man got stuck over the hand of their prophet. Then that prophet said (to the man), ‘The theft has been committed by your people. So all the persons of your tribe should give me the pledge of allegiance by shaking hands with me.’ The hands of two or three men got stuck over the hand of their prophet and he said, “You have committed the theft.’ Then they brought a head of gold like the head of a cow and put it there, and the fire came and consumed the booty. The Prophet () added: Then Allah saw our weakness and disability, so he made booty legal for us.” (Shahih al Bukhari : 3124).

Rujukan dalam Injil, Joshua 10:12–13

Then Joshua spoke to the Lord in the day when the Lord delivered up the Amorites before the children of Israel, and he said in the sight of Israel:

“Sun, stand still over Gibeon;

And Moon, in the Valley of Aijalon.”

So the sun stood still,

And the moon stopped,

Till the people had revenge

Upon their enemies.

 

Nama nabi yang dikisahkan ini adalah Yusya anak dari Nun, anak dari Ephraim, anak dari Nabi Yusuf (Joseph), anak dari Nabi Ya’qub (Jacob), anak dari Nabi Ishaaq (Isaac), anak dari Nabi Ibrahim (Abraham).[1] Dalam literatur Nasrani dia dikenal dengan nama Joshua.

Selama 40 tahun bani Israel berkelana di gurun sebagai hukuman dari Allah karena ketidaktaatan mereka. Sepeninggal nabi Musa dan Harun, kepemimpinan bani Israel dipegang oleh Yusya bin Nun.[2]

Nabi Yusya bin Nun berencana menaklukkan Jerusalem yang dihuni oleh orang-orang bertubuh besar seperti raksasa[3], dan dia menyeleksi orang yang akan menjadi pasukannya dengan aturan:

  • One who has married a woman and wants to consummate to his marriage but has not yet done so;
  • another who has built a house but has not yet erected its roof;
  • and another who has bought goats and pregnant she-camels and is waiting for their offspring;

Siapa yang masuk dalam aturan di atas, tidak menjadi bagian pasukannya.[4] Dengan demikian nabi Yusya bin Nun telah mementingkan dan menitikberatkan kualitas pasukannya daripada kuantitas.

Kemudian berperanglah nabi Yusya bin Nun. Peperangan yang pamungkas terjadi pada hari Jum’at.[5] Peperangan hampir dimenangkan oleh nabi Yusya bin Nun menjelang matahari terbenam. Dalam aturan bani Israel tidak boleh bekerja dan berperang pada hari Sabtu, dan pergantian hari dalam aturan Yahudi (dan juga Islam) hari berikutnya dimulai dengan terbenamnya matahari. Nabi Yusya bin Nun khawatir bila perang ini tidak bisa dituntaskan sebelum terbenamnya matahari, maka pihak lawan mampu memulihkan kondisinya. Maka nabi Yusya menunjuk ke matahari dan berkata

“You are receiving orders and I am receiving orders from Allah, O Allah stop the sun!”[6]

Kemudian Allah mengabulkan doanya dan matahari berhenti agar nabi Yusya bin Nun bisa menuntaskan peperangan dan mendapatkan kemenangan menaklukkan Jerusalem. Ini menjadi pelajaran bagi kita, bila kita dekat dengan Allah, maka Allah akan menolong dan memudahkan urusan kita.

Dari hadits di atas dan juga kutipan dari Injil sama-sama menjelaskan satu hal yaitu berputarnya matahari mengelilingi bumi. Berkata al ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf di bukunya ketika menjelaskan hadits Bukhari di atas,

“Sisi pengambilan dalil dari hadits ini juga sangat jelas bahwa Sang Nabi tersebut tatkala mengetahui bahwa matahari akan tenggelam –padahal aturan perang pada zaman dahulu kalau sudah tenggelam matahari maka tidak boleh meneruskan serangan- maka dia berdoa kepada Allah untuk menahan matahari. Seandainya yang bergerak itu bumi, maka dia akan berdoa kepada Allah agar menahan gerakan rotasi bumi.”[7]

Berkata al ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf pada bagian lain di buku tersebut,

“Padahal telah maklum dalam kaidah ilmu bahasa Arab bahwa pada dasarnya ucapan itu dibawa pada hakikatnya. Dan di antara bentuk hakikat adalah kalau sebuah fi’il atau kata kerja disandarkan pada sesuatu maka dialah yang melakukannya dan bukan lainnya”.[8] [9]

Dalam hal ini nabi Yusya bin Nun baik dalam hadits dan juga kutipan di Injil telah mengucapkan kalimat yang meminta matahari untuk berhenti. Dengan demikian disimpulkan bahwa mataharilah yang berputar mengelilingi bumi.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berkata,

“The sun has never stopped for any man besides Yusha when he wanted to conquer Bayt al-Muqaddis.”[10]

Sebuah literatur menyebutkan mengapa bani Israel tidak bisa memasuki Jerusalem dan berkelana 40 tahun di gurun karena ketidaktaatan mereka kepada Allah sampai generasi tersebut habis dan lahir generasi baru yang akan diberikan kemenangan.

Under the leadership of Yusha ibn Nun, Bani Isra’il is made victorious and returns to the Holy Land, an event which did not occur under Musa or Harun (who both passed away whilst Bani Isra’il was still in the wilderness). The Prophet, sallallahu ‘alayhi wa sallam, gives us a clue as to why this victory was delayed when he said:

“None of the ones who worshipped the calf entered into Jerusalem.”[11]

Disebutkan lagi

Allah made them stay in the wilderness for 40 years until all of that generation had passed away. And they were replaced by a new generation raised in freedom and taught the guidance of the Taurah by Musa and Harun, and it was this generation that was given the victory.[12]

Nabi Yusya bin Nun hidup sampai usia 127 tahun.[13]

Hadits dari Imam Bukhari nomor 3124 di atas pun menjelaskan bahwa pada masa itu harta rampasan perang tidak boleh diambil, tetapi untuk umat Islam harta rampasan perang dibolehkan. Apa yang dikisahkan tentang nabi Yusya bin Nun dalam hadits lebih lengkap daripada yang dikisahkan dalam Injil.

Tertahannya matahari tidak satu hari tetapi hanya beberapa saat menjelang matahari terbenam. Ada sebuah artikel yang mengutip Injil Joshua tersebut, kemudian artikel tersebut menjelaskan hari yang hilang selama 23 jam lebih 20 menit. Berarti hampir satu hari penuh. Ini jelas tidak benar. Apalagi bila dibenturkan dengan ayat Joshua tersebut, bahwa matahari dan bulan sudah tampak, ini berarti sudah hampir terbenam matahari. Dengan demikian apa yang dikisahkan oleh hadits dalam Bukhari nomor 3124 lebih bisa dipahami daripada apa yang dijelaskan dalam Injil. Meski keduanya (hadits dan ayat dalam Injil) sama-sama menjelaskan berputarnya matahari mengelilingi bumi.

 

(ditulis di Bogor, ba’da Isya’ 19 Rabiul Akhir 1439 H/7 Januari 2018 M)

 

[1] https://thethinkingmuslim.com/2016/01/11/yusha-ibn-nun-the-only-man-for-whom-the-sun-was-stopped/

[2] https://thethinkingmuslim.com/2016/01/11/yusha-ibn-nun-the-only-man-for-whom-the-sun-was-stopped/

[3] http://sunnahonline.com/library/stories-of-the-prophets/621-story-of-yusha-ibn-nun-joshua-the

[4] Lihat Shahih Bukhari 3124

[5] https://thethinkingmuslim.com/2016/01/11/yusha-ibn-nun-the-only-man-for-whom-the-sun-was-stopped/

[6] http://sunnahonline.com/library/stories-of-the-prophets/621-story-of-yusha-ibn-nun-joshua-the

[7] Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, “Matahari Mengelilingi Bumi, Sebuah Kepastian al Qur’an dan as Sunnah serta Bantahan Terhadap Teori Bumi Mengelilingi Matahari”, Pustaka al Furqon, Rabiul Awwal 1437 H (April 2006)

[8] Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, “Matahari Mengelilingi Bumi, Sebuah Kepastian al Qur’an dan as Sunnah serta Bantahan Terhadap Teori Bumi Mengelilingi Matahari”, Pustaka al Furqon, Rabiul Awwal 1437 H (April 2006)

[9] Ini juga berlaku pada bahasa yang lainnya.

[10] http://sunnahonline.com/library/stories-of-the-prophets/621-story-of-yusha-ibn-nun-joshua-the

[11] http://sunnahonline.com/library/stories-of-the-prophets/621-story-of-yusha-ibn-nun-joshua-the

[12] http://sunnahonline.com/library/stories-of-the-prophets/621-story-of-yusha-ibn-nun-joshua-the

[13] https://thethinkingmuslim.com/2016/01/11/yusha-ibn-nun-the-only-man-for-whom-the-sun-was-stopped/